Tips agar Perut Tak Gegar Budaya Makan Saat Merantau Halaman「888 Live Casino」 2

  • 时间:
  • 浏览:0

Dse888 Live Casinon yan888 Live Casinog akrab d888 Live Casinoisapa Aji itu mengatakan, gegar budaya adalah normal dan sesuatu yang bisa diterima. Sebab, seseorang biasanya lebih nyaman di lingkungan budaya yang sama.

Baca juga: Resep Ayam Pop Khas Minang, Lauk Sahur Bumbu Tidak Ribet

"Sebanyak-banyaknya makanan, seorang makan dua lauk sudah membuat kenyang," kata Yevita.

Budaya makan orang Minang ini tercermin dari sebutan 'perempuan sepuh di nagari' (desa) yang disebut 'induak bareh' atau secara harfiah ibu beras.

Yevita kurang setuju dengan netizen yang menyebutkan orang Sumatera--khususnya Minangkabau--harus makan banyak lauk dalam sekali makan.

Maka dari itu, gegar budaya makan saat harus berpindah atau merantau, dalam hal ini dari Sumatera ke Jawa, merupakan hal yang wajar.

"Konsep makan orang Minang itu lamak atau enak dari berbagai masakan khas, tetapi itu makan untuk beramai-ramai bukan untuk satu orang," jelas Yevita.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.

Daftarkan email

Dalam setiap ritual budaya Minangkabau, makan jadi sesi penting dan utama. Tak heran apabila orang Minang akan berusaha menyuguhkan makanan terbaik untuk para tamu.

Kembali lagi ke budaya makan orang Minang; ini dilakukan sebagai bentuk kebersamaan dan berbagi.

Dosen Antropologi Universitas Indonesia, Semiarto Aji Purwanto, menyatakan bahwa budaya makan erat kaitannya bagaimana seseorang memandang makanan dan selera makan.

Namun bukan berarti orang Sumatera bisa digeneralisir sebagai orang yang berlebihan dalam bersantap makanan.